๐Ÿ“ˆ CNMA

Kenapa saya beli saham CNMA? Jawaban singkatnya, ya karena saya suka nonton di bioskop.

Poin plus: potential growth (masa sih?)

Jumlah layar bioskop di Indonesia masih sedikit. Lebih dari setengah layar XXI ada di pulau Jawa.

Pajak bioskop diturunkan.

Industri kreatif menjadi industri potensial Indonesia di masa depan (berdasarkan dialog masing-masing ketiga capres 2024 dengan KADIN).

Bonus demografi (udah ga ada poin bahan bakar growth lain jadi mulai ngasal).

Dan yang terakhir dan paling penting, bioskop di Indonesia bagus-bagus, terutama XXI yang punya studio IMAX. This is fundamental. Udah lah, all-in.

Sekarang bahas sisi negatifnya

Saya sendiri sih menganggap tidak ada resiko dalam investasi ini (bohong, PE tinggi aja ga bisa dijustifikasi untuk industri sunset).

“Netflix gimana bang?”

Platform layanan streaming film tidak akan menggantikan pengalaman menonton film layar lebar. Ada nilai positifnya yaitu berpotensi menumbuhkan minat dan budaya menonton film di daerah-daerah yang belum ada bioskop. Jika antusiasme tinggi, akan lebih memudahkan pihak XXI untuk meyakinkan diri membuka kedai film baru karena adanya demand.

“Ah itu argumen sinefil aja bang, kalo buat mayoritas yang penonton casual ga ngaruh.”

Coba deh nonton film IMAX di studio IMAX, atau nonton di Starium CGV (promosi kompetitor, tapi gapapa, selain IMAX dan Starium, kompetisi yang sehat juga bagus).

Jadi kesimpulannya adalah, saya bukan sedang berinvestasi di CNMA, melainkan sedang berjudi. Karena sejatinya berinvestasi harus diikuti dengan melakukan investigasi bisnis dan manajemen perusahaan, analisis laporan keuangan: neraca, laba rugi, arus kas, menghitung valuasi dan analisis resiko. Sedangkan saya berjudi pada keyakinan perekonomian nasional akan maju.

Panjang umur sinema!

Catatan kaki. Tulisan ini bukan saran finansial atau investasi. Kalau pun iya, ini bukanlah saran yang bijak. Hubungi penasihat keuangan ber-license untuk mendapatkan saran yang lebih make sense.